Banyak ibu yang merasa kesulitan membedakan gejala demam tifus dengan gejala DBD pada anak. Pada umumnya semua diawali gejala panas dengan suhu diatas 37,5⁰C. Namun, para ibu sebaiknya mengetahui lebih lanjut mengenai kedua karakteristik penyakit tersebut. Seperti gelaja, penyebab, dan cara pengobatannya. Karena jika salah dalam memberikan pengobatan akan menyebabkan komplikasi yang lebih parah.
1. Demam Berdarah Dengue
Atau biasa disebut dengan istilah DBD, disebabkan oleh gigitan nyamuk aedes aegypti yang membawa virus dengue. Adapun istilah lain untuk penyakit ini adalah break-bone, dikarenakan penderita akan merasakan nyeri pada sendi dan otot, hal inilah yang menyebabkan anak menjadi sangat rewel.
Dinamakan demam berdarah, karena penderita akan mengalami demam yang tinggi disertai dengan perdarahan, biasanya pada area gusi, hidung, dan bawah kulit. disertai dengan munculnya ruam-ruam merah pada kulit
![]() |
| Petekie (Ruam Merah pada Kulit Anak) |
Faktor lingkungan menjadi penyebab utama penyakit DBD bisa muncul. Karena, nyamuk Aedes aegypti hidup dan berkembang biak pada area yang lembab. Seperti, kolam dengan air yang tenang atau tempat penampungan air yang jarang dibersihkan. Kita bisa mencegahnya dengan menerapkan 3M serta berperilaku hidup bersih dan sehat.
2. Tifus atau Demam Tifoid
Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), merupakan penyakit pencernaan yang disebabkan adanya infeksi kuman Salmonella typhii. Penyakit
tifus ini dapat ditularkan dari satu orang ke orang lain dengan mudah.
Salah satu cara penularannya adalah melalui kotoran pengidapnya, bisa
dari feses ataupun air liur seseorang. Jadi, kalau bayi berbagi makanan
dengan pengidap tifus, ada kemungkinan dia bisa tertular.
Bayi yang baru lahir bisa terkena penyakit tifus. Hal tersebut dikarenakan ketika sedang mengandung, ibu mengidap penyakit tifus. Tanpa disadari kuman Salmonella typhii menembus dinding plasenta dan masuk ke dalam si kecil. Penyebab lain yang berhubungan dengan kebersihan seperti, ibu yang tidak pernah mencuci tangan pada saat menyiapkan makanan anak, atau bahan makanan yang tidak dicuci dengan bersih. Karena kuman tersebut dapat menempel pada tangan ibu, bahan makanan, bahkan pada mainan anak. Sampai saat ini belum ada penelitian yang menunjukkan bahwa tifus dapat menular melalui ASI.
![]() |
| Demam Tifoid |
|
|
DBD |
Tifus |
|
Karakteristik Demam |
Demam tinggi (suhu antara 39-40 derajat Celcius) yang muncul secara mendadak, demam bisa berlangsung sampai tujuh hari dan terjadi secara terus menerus. |
Demam muncul secara bertahap. Saat gejala awal muncul, suhu tubuh bisa normal atau rendah, lalu akan naik secara perlahan setiap hari, dan bisa mencapai 40 derajat Celcius. Demam pada sore hari, suhu akan turun sendiri pada pagi hari |
|
Gejala Khas |
Munculnya ruam-ruam merah pada kulit, perdarahan pada gusi, mimisan |
Mual, muntah dan diare (masalah saluran pencernaan |
|
Kondisi mulut |
- |
Bibir terlihat kering, dan bagian tepi serta tengah lidah berwarna putih. |
|
Letak rasa sakit |
Merasakan sakit pada area dada |
Merasa sakit di bagian perut atau saluran pencernaan lainnya |
![]() |
| PHBS yang dapat diterapkan |
|
DBD |
Tifus |
|
Selalu menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat |
Selalu menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat |
|
Menggunakan lotion anti nyamuk dan kelambu |
Mengonsumsi makanan yang bersih dan dimasak hingga matang |
|
Menerapkan perilaku 3M - Membersihkan lingkungan - Menguras bak mandi - Menutup tempat penampungan air |
Bibir terlihat kering, dan bagian tepi serta tengah lidah berwarna putih. |
- Konsumsi banyak cairan
Anak diharuskan mengonsumsi banyak cairan untuk mencegah terjadinya dehidrasi. Jika dehidrasi dibiarkan maka akan mengakibatkan penurunan trombosit dan syok. Inilah yang dapat mengancam nyawa pasien hingga kematian.
Konsumsi cairan yang dianjurkan adalah 2–3 liter per hari. Beberapa pilihannya adalah air putih, jus buah, dan larutan oralit. Hindari minuman bersoda dan kafein karena berpotensi menarik cairan keluar dari tubuh.
- Istirahat total
Anak diharapkan untuk beristirahat total selama masih demam maupun fase syok. Penting juga untuk selalu memonitor kadar trombosit dan kadar sel darah merah sampai mencapai batas normal kembali.
- Atasi demam dengan kompres dan obat penurun panas
Untuk mengatasi demam dapat
melakukan kompres pada seluruh area tubuh. Umumnya area dahi, lipatan lengan (ketiak) dan lipatang paha anak. Hal ini berfungsi
untuk mentransfer suhu panas ke handuk kompres. Obat yang dapat dikonsumsi oleh anak-anak adalah paracetamol sirup.
![]() |
| kompres |




Komentar
Posting Komentar